Ninja
Hatori
(Mendaki Bukit; Lewati Lembah)
%2B(2).png)
Hendy
Santoso
“Dan sesungguhnya kami benar-benar akan
menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar
diantara kalian” (Muhammad : 31)
“Karena sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan, dan Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan” (Al Insyirah : 5-6)
Cerita
singkatnya dimulai dari selasa pagi 21 Januari 2014 kami kumpul di kampus kami
tercinta UNJ, tepatnya di BEM FMIPA. Pagi itu kami diguyur hujan gerimis, dan
dibalik hujan keberkahanpun tiba datanglah mobil ka Rahmat Fadrikal, Avanza
hitam yang akan menghantar kami ke kampung Cibuyutan. Namun, tantanganpun
datang mobil tidak cukup untuk kami bersepuluh. Akhirnya ketua SC si bang Rizal
pibonaci berinisiatif untuk menggunakan sepeda motor dengan saya. Kami
berangkat dari UNJ pukul 10 pagi.
Sekitar
8 orang duduk berdesakan. Bersyukur bahwa pagi itu hujan tidak terlalu deras
setelah sehari sebelumnya beberapa kota di Jakarta dikepung banjir. Setelah
kurang lebih dua jam menaiki kendaraan sepeda motor, sampailah kami di terminal
Cileungsi. Saya dan ka Rizal menunggu mobil yang terjebak macet. Ditengah kami
menunggu akhirnya kami bertemu ka Ikhsan (Fisika). Pemandu kami di Kampung
Cibuyutan.
30
menit kami menunggu mobilpun tiba. Pas adzan berkumandang kami pun melaksanakan
shalat dzuhur yang di jamak dengan Ashar. Karena menurut penuturan ka Ikhsan
perjalanan kami masih jauh. Tanpa melupakan ibadah perut kami pun seiring
mengikuti kebutuhan siang itu. Kami makan siang di pelataran Masjid dan selesai
makan kami melanjutkan perjalanan kami.
Setelah
kurang lebih 3 jam menaiki kendaraan sampailah kami di Desa Sukarasa, Bogor.
Kami diturunkan dari kendaraan di sebuah warung yang disana Pak Mista selaku
Guru di MI Miftahussholah sudah menunggu untuk menghantarkan kami ke Kampung
diatas bukit. Disini kami beristirahat mengumpulkan tenaga untuk perjalanan
yang sesungguhnya.
Singkat
cerita keringat dari pejuang pendidikan di Pedalaman Cibuyutan, membuat ku
menjadi yang terbaik untuk anak negri. Hanya mampu menarik nafas panjang sambil
menadah ke langit. Sore itu, ketika langit cerah dengan sedikit gerimis kecil
(seperti video klip lagu di Tipi. hehe). Menuju perjalanan ke Kampung Cibuyutan
dengan menjadi inspirasiku melukiskan kisah ini dibenakku.
Perjalanan
sesungguhnya dimulai!
Kaki
yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya...
Tangan
yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya...
Mata
yang akan menatap lebih lama dari biasanya...
Leher
yang akan lebih sering melihat keatas...
Lapisan
tekad yang seribu kali lebih keras dari lapisan baja...
Dan
hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya...
Serta
mulut yang akan terus berdo’a... (5 cm)
Kami
harus berjalan kaki sekitar lima kilometer dengan barang bawaan yang sangat
berat serta harus melewati berbatu nan berlumpur dikarenakan hujan. Mendaki
bukit dan melewati lembah. Saya membawa sebuah carrier 80 L. Namun, ditengah
perjalanan saya merasa tidak pantas dimana saya hanya membawa carrier sedangkan
saudara saya membawa jinjingan terlebih wanita yang membawanya. (walaupun
sering orang menyebut dia wanita strong) Akhirnya saya membawa kantung kresek
putih berisi buku dan souvenir untuk mengajar esok hari. Carrier yang aku bawa
dipunggungku nampaknya tidak terlalu menghambat perjalanan yang ditempuh dengan
berjalan kaki itu. Walaupun kita sering beristirahat karena kelelahan. Tapi
barang jinjingan yang aku bawa menjadi merepotkan, semua laki-laki tangguh itu
adalah saya(kimia), Ka Rizal(Biologi), Ka Ikhsan(Fisika), Ka Adi(Fisika), dan
Ka Affif(Kimia), serta wanita-wanita tangguh lainnya yang membantu adalah Ka
Visya(Matematika), Ka Kalika(Biologi), Ka Nilam(Kimia), dan Ka Fatiya(Fisika).
Rekan-rekan yang Subhanallah... J
Selama
perjalanan, kami melewati sawah, jalanan yang rusak parah dan berlumpur, sampai
sungai dan batu-batu besar dikanan kirinya. Tak terhitung sudah berapa kali
kami terjerembab lumpur hingga terjatuh. Ditambah barang-barang bawaan yang
beratnya subhanallah, keseimbangan kami sering kali goyah. Peluh keringat yang
bercucuran sudah tak lagi kami hiraukan, juga pegalnya kaki untuk melangkah
tidak kami rasakan. Hingga ka Fatiya merasakan pusing akibat terpaan hujan yang
tak kunjung reda. P3K(Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) pun kami siapkan
untuk situasi tak terduga seperti saat ini. Kami pun beristirahat hingga kak
Fatiya terlihat baikan. Sebenarnya bisa saja kak Fatiya naik bukit diantar
menggunakan motor cros. Namun, sekali lagi kak Fatiya menunjukan ke
tangguhannya, Kak Fatiya tetap melanjutkan tanpa diantar motor cros karena
mereka wanita tangguh.
Entah
mengapa, dalam situasi melelahkan itu masih saja ada lelucon konyol. Saling
memberi samangat dan humor-humor segar, atau sekedar tingkah laku yang aneh
dari salah satu diantara kami. Sungguh mengharukan..
Ketika
perjalanan menembus pesawahan berlumpur itu, jarang sekali ada rumah- rumah
warga yang dapat kami gunakan untuk beristirahat. Yang ada malah kandang sapi
dan kerbau, yang membuat udara disekitar terasa mencium parfum kelas dunia
(kayak iklan yak). Para warga disini, orang-orang yang notabene sama sekali
belum megenal kami, tapi senyum dan sapa tak pernah luput dari pandangan kami
selama perjalanan. Tuluuuussss :’’)
Setelah
menempuh perjalanan yang amat sangat melelahkan selama hampir 3 jam, sampailah
kami di kampung Cibuyutan. Kami singgah di Saung Pak Mista yang akan kami
jadikan salah satu tempat tinggal. Kebetulan saya dan laki-lakinya, tinggal di
Saung ini. Dan wanitanya di Saung Saudara Pak Mista. Kedua orang tua luar biasa
yang menyambut kami dengan penuh cinta dan pelayanan terbaik.
Hujan
menunjukan kembali keberkahannya. Disaat hujan turun istri pak Mista menadahkan
baskom dan ember itu pun terisi air hujan dengan sendirinya. Dan bertepatan
dengan kedatangan kami disana baskom dan ember terisi penuh dengan air hujan.
Bisa dibayangkan berjalan diatas tanah yang becek membuat sepatu/alas kaki kami
berlumpur dan penuh tanah. Kami membersihakannya dengan air hujan sehingga kami
bisa masuk ke saung dengan keadaan bersih. Jadi, ndak perlu repot-repot jalan
jauh untuk membasuh kaki yang berlumuran lumpur.
Kami
pun disambut denngan hidangan makanan. Kami makan nasi dengan lauk ikan asin.
Menurut pemaparan kaka tingkat kami, ikan asin merupakan makanan yang termasuk
mewah dikampung ini. Bisa dibayangakan dan bandingkan dengan kita yang hidup di
Jakarta. Disini kami sangat bersyukur dengan makan nasi yang lebih baik dan
lauk yang bisa dikatakan baik. Karena masih banyak diluar sana yang masih kekurangan
dari pada kita. Dan satu lagi yang membuat haru saya tersentuh. Untuk minum
kami harus merebus terlebih dahulu. Tukang sayur pun datang hanya seminggu
sekali. Seperti itulah keadaan mereka disana kawan.
Makan
sudaaah, sekarang mau ngomongin listriknya dulu yaah..
Alhamdulillah
15 hari sebelum kami singgah di kampung Cibuyutan listrik sudah ada, “sekarang
teh sudah ada panel surya, jadi terang dan bisa nonton tipi” begitu celoteh
warga sana dengan logat sundanya. Lalu
saya bertanya kembali “lalu bagaimana sebelumnya yang tidak ada listrik?’’
katanya sih ada disel dengan bahan bakar solar dan ketika solar habis yaudah
deh gelap-gelapan lagi. Udah cukup ya flashbacknya. ‘’Ternyata masih ada
kampung seperti ini’’ dalam benakku. Namun, kuota litrik tidak banyak yang
diberikan panel surya.(udeh kaya paket internetan aje pake kuota segala). Jadi,
ketika 1 lampu, TV 14’ menyala, dan 2 charger HP tiba-tiba mati karena ndak
kuat. Jadi ndak bisa charger HP deh..... Akhirnya HP pun di irit-irit pemakaiannya
untuk 3 hari kedepan.
Didalam
benakku terlintas, ‘’Lalu bagaimana ya dengan anak-anak di sekolah yang akan
kami ajar besok ? tak sabar rasanya ingin degera bertemu mereka.’’ J
dan malam itu kami tertidur dengan sangat nyenyak mungkin karena efek kecapekan
saat mendaki. Namun, sebelumnya kami dirikan shalat maghrib yang dijamak dengan
isya. Tak lupa SSJ (Sehari Satu Juz) pun saya dapat selesaikan.
Dahulu
saya sering bertanya-tanya ketika saya naik gunung. Sebenarnya ada ndak sih
yang naik gunung atau bukit menggunakan rok??? Setelah saya bertanya kepada
ornag yang sering naik gunung ternyata dia bilang tidak ada. Disitu hati saya
gelisah, karena kebanyakan orang yang sudah terbiasa menggunakan rok ketika
naik gunung melepaskan roknya dan mengganti dengan celana training. Lalu kemana
pakaian syar’i kalian wahai ukhti??? (yah keceplosan deh ‘afwan ya
#agakkeseldikit). Namun, pertanyaan itu sirna ketika saya melihat wanita
mendaki bukit dengan roknya. Alhamdulillah,,, Kesimpulannya, Jadi, mendaki
gunung bukan dijadikan alasan untuk tidak berpakaian syar’i.
Sahabatku,
perjalanan masih panjang tuk kita menelusuri negeri ini, yang penuh sejuta
impian dan masih terpendam seribu potensi dari tatapan mata bocah lugu sudut
negeri. Hanya layang-layang yang mampu manantang angin yang mampu berkibar
tinggi diangkasa. Jika kita tidak mampu menjadi pelita yang menerangi malam,
maka jadilah kunang-kunang yang menghiasi malam.
Semoga
sedikit kesungguhan untuk berjuang mendapat ridho ALLAH. Dan bagi kami yang
mendapat kesempatan baik ditempat pangabdian, untuk dapat memanfaatkan rasa
syukur kepada ALLAH yang selalu menguji hambanya dan memberi jalan keluar,
disetiap permasalahan.
“sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang tidak menonjolkan diri, taqwa, & shalih.
Apabila tidak hadir, mereka tak
dicari-cari
Apabila hadir mereka tak dikenali
Mereka bagaikan lentera-lentera
petunjuk Yang mampu menerangi setiap kegelapan”
(HR.
Al Mundziri dalam At Targhib wat Tarhib, Hasan)
Cibuyutan,
21 Januari 2014 Pukul : 22.37 WIB
Biodata
Penulis
Nama : Hendy Santoso
Nama
Panggilan : Hendy/Hensa
Alamat : Jl. Tanah Tinggi XII
No.15 RT04/12 Jakarta Pusat
TTL : Tegal, 23 Juli 1994
Riwayat
Pendidikan :
SDN
Pagiyanten III
SMPN
2 Adiwerna, Tegal
SMAN
27 Jakarta
FB
: Hendy
Santoso
Twitter : @hendykimia
No.
Hp : 0857 821 921 89
Pekerjaan
: Pendidik dan
wirausaha
Pesan
: Kita jangan hanya jadi PENONTON, tetapi kita harus jadi
PEMAIN dalam hidup ini.
Motto
:
Teruslah
BERGERAK membuat jejak-jejak KEBAIKAN,
karena
ELEKTRON takkan pernah lelah dan berhenti ‘tuk mengorbit inti ATOM.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar