Instagram

Senin, 12 Oktober 2015

My Diary

Ninja Hatori
(Mendaki Bukit; Lewati Lembah)
Hendy Santoso
 “Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian” (Muhammad : 31)
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, dan Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Al Insyirah : 5-6)
Cerita singkatnya dimulai dari selasa pagi 21 Januari 2014 kami kumpul di kampus kami tercinta UNJ, tepatnya di BEM FMIPA. Pagi itu kami diguyur hujan gerimis, dan dibalik hujan keberkahanpun tiba datanglah mobil ka Rahmat Fadrikal, Avanza hitam yang akan menghantar kami ke kampung Cibuyutan. Namun, tantanganpun datang mobil tidak cukup untuk kami bersepuluh. Akhirnya ketua SC si bang Rizal pibonaci berinisiatif untuk menggunakan sepeda motor dengan saya. Kami berangkat dari UNJ pukul 10 pagi.
Sekitar 8 orang duduk berdesakan. Bersyukur bahwa pagi itu hujan tidak terlalu deras setelah sehari sebelumnya beberapa kota di Jakarta dikepung banjir. Setelah kurang lebih dua jam menaiki kendaraan sepeda motor, sampailah kami di terminal Cileungsi. Saya dan ka Rizal menunggu mobil yang terjebak macet. Ditengah kami menunggu akhirnya kami bertemu ka Ikhsan (Fisika). Pemandu kami di Kampung Cibuyutan.
30 menit kami menunggu mobilpun tiba. Pas adzan berkumandang kami pun melaksanakan shalat dzuhur yang di jamak dengan Ashar. Karena menurut penuturan ka Ikhsan perjalanan kami masih jauh. Tanpa melupakan ibadah perut kami pun seiring mengikuti kebutuhan siang itu. Kami makan siang di pelataran Masjid dan selesai makan kami melanjutkan perjalanan kami.
Setelah kurang lebih 3 jam menaiki kendaraan sampailah kami di Desa Sukarasa, Bogor. Kami diturunkan dari kendaraan di sebuah warung yang disana Pak Mista selaku Guru di MI Miftahussholah sudah menunggu untuk menghantarkan kami ke Kampung diatas bukit. Disini kami beristirahat mengumpulkan tenaga untuk perjalanan yang sesungguhnya.
Singkat cerita keringat dari pejuang pendidikan di Pedalaman Cibuyutan, membuat ku menjadi yang terbaik untuk anak negri. Hanya mampu menarik nafas panjang sambil menadah ke langit. Sore itu, ketika langit cerah dengan sedikit gerimis kecil (seperti video klip lagu di Tipi. hehe). Menuju perjalanan ke Kampung Cibuyutan dengan menjadi inspirasiku melukiskan kisah ini dibenakku.
Perjalanan sesungguhnya dimulai!
Kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya...
Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya...
Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya...
Leher yang akan lebih sering melihat keatas...
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari lapisan baja...
Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya...
Serta mulut yang akan terus berdo’a... (5 cm)
Kami harus berjalan kaki sekitar lima kilometer dengan barang bawaan yang sangat berat serta harus melewati berbatu nan berlumpur dikarenakan hujan. Mendaki bukit dan melewati lembah. Saya membawa sebuah carrier 80 L. Namun, ditengah perjalanan saya merasa tidak pantas dimana saya hanya membawa carrier sedangkan saudara saya membawa jinjingan terlebih wanita yang membawanya. (walaupun sering orang menyebut dia wanita strong) Akhirnya saya membawa kantung kresek putih berisi buku dan souvenir untuk mengajar esok hari. Carrier yang aku bawa dipunggungku nampaknya tidak terlalu menghambat perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki itu. Walaupun kita sering beristirahat karena kelelahan. Tapi barang jinjingan yang aku bawa menjadi merepotkan, semua laki-laki tangguh itu adalah saya(kimia), Ka Rizal(Biologi), Ka Ikhsan(Fisika), Ka Adi(Fisika), dan Ka Affif(Kimia), serta wanita-wanita tangguh lainnya yang membantu adalah Ka Visya(Matematika), Ka Kalika(Biologi), Ka Nilam(Kimia), dan Ka Fatiya(Fisika). Rekan-rekan yang Subhanallah... J
Selama perjalanan, kami melewati sawah, jalanan yang rusak parah dan berlumpur, sampai sungai dan batu-batu besar dikanan kirinya. Tak terhitung sudah berapa kali kami terjerembab lumpur hingga terjatuh. Ditambah barang-barang bawaan yang beratnya subhanallah, keseimbangan kami sering kali goyah. Peluh keringat yang bercucuran sudah tak lagi kami hiraukan, juga pegalnya kaki untuk melangkah tidak kami rasakan. Hingga ka Fatiya merasakan pusing akibat terpaan hujan yang tak kunjung reda. P3K(Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) pun kami siapkan untuk situasi tak terduga seperti saat ini. Kami pun beristirahat hingga kak Fatiya terlihat baikan. Sebenarnya bisa saja kak Fatiya naik bukit diantar menggunakan motor cros. Namun, sekali lagi kak Fatiya menunjukan ke tangguhannya, Kak Fatiya tetap melanjutkan tanpa diantar motor cros karena mereka wanita tangguh.
Entah mengapa, dalam situasi melelahkan itu masih saja ada lelucon konyol. Saling memberi samangat dan humor-humor segar, atau sekedar tingkah laku yang aneh dari salah satu diantara kami. Sungguh mengharukan..
Ketika perjalanan menembus pesawahan berlumpur itu, jarang sekali ada rumah- rumah warga yang dapat kami gunakan untuk beristirahat. Yang ada malah kandang sapi dan kerbau, yang membuat udara disekitar terasa mencium parfum kelas dunia (kayak iklan yak). Para warga disini, orang-orang yang notabene sama sekali belum megenal kami, tapi senyum dan sapa tak pernah luput dari pandangan kami selama perjalanan. Tuluuuussss :’’)
Setelah menempuh perjalanan yang amat sangat melelahkan selama hampir 3 jam, sampailah kami di kampung Cibuyutan. Kami singgah di Saung Pak Mista yang akan kami jadikan salah satu tempat tinggal. Kebetulan saya dan laki-lakinya, tinggal di Saung ini. Dan wanitanya di Saung Saudara Pak Mista. Kedua orang tua luar biasa yang menyambut kami dengan penuh cinta dan pelayanan terbaik.
Hujan menunjukan kembali keberkahannya. Disaat hujan turun istri pak Mista menadahkan baskom dan ember itu pun terisi air hujan dengan sendirinya. Dan bertepatan dengan kedatangan kami disana baskom dan ember terisi penuh dengan air hujan. Bisa dibayangkan berjalan diatas tanah yang becek membuat sepatu/alas kaki kami berlumpur dan penuh tanah. Kami membersihakannya dengan air hujan sehingga kami bisa masuk ke saung dengan keadaan bersih. Jadi, ndak perlu repot-repot jalan jauh untuk membasuh kaki yang berlumuran lumpur.
Kami pun disambut denngan hidangan makanan. Kami makan nasi dengan lauk ikan asin. Menurut pemaparan kaka tingkat kami, ikan asin merupakan makanan yang termasuk mewah dikampung ini. Bisa dibayangakan dan bandingkan dengan kita yang hidup di Jakarta. Disini kami sangat bersyukur dengan makan nasi yang lebih baik dan lauk yang bisa dikatakan baik. Karena masih banyak diluar sana yang masih kekurangan dari pada kita. Dan satu lagi yang membuat haru saya tersentuh. Untuk minum kami harus merebus terlebih dahulu. Tukang sayur pun datang hanya seminggu sekali. Seperti itulah keadaan mereka disana kawan.
Makan sudaaah, sekarang mau ngomongin listriknya dulu yaah..
Alhamdulillah 15 hari sebelum kami singgah di kampung Cibuyutan listrik sudah ada, “sekarang teh sudah ada panel surya, jadi terang dan bisa nonton tipi” begitu celoteh warga sana  dengan logat sundanya. Lalu saya bertanya kembali “lalu bagaimana sebelumnya yang tidak ada listrik?’’ katanya sih ada disel dengan bahan bakar solar dan ketika solar habis yaudah deh gelap-gelapan lagi. Udah cukup ya flashbacknya. ‘’Ternyata masih ada kampung seperti ini’’ dalam benakku. Namun, kuota litrik tidak banyak yang diberikan panel surya.(udeh kaya paket internetan aje pake kuota segala). Jadi, ketika 1 lampu, TV 14’ menyala, dan 2 charger HP tiba-tiba mati karena ndak kuat. Jadi ndak bisa charger HP deh..... Akhirnya HP pun di irit-irit pemakaiannya untuk 3 hari kedepan.
Didalam benakku terlintas, ‘’Lalu bagaimana ya dengan anak-anak di sekolah yang akan kami ajar besok ? tak sabar rasanya ingin degera bertemu mereka.’’ J dan malam itu kami tertidur dengan sangat nyenyak mungkin karena efek kecapekan saat mendaki. Namun, sebelumnya kami dirikan shalat maghrib yang dijamak dengan isya. Tak lupa SSJ (Sehari Satu Juz) pun saya dapat selesaikan.
Dahulu saya sering bertanya-tanya ketika saya naik gunung. Sebenarnya ada ndak sih yang naik gunung atau bukit menggunakan rok??? Setelah saya bertanya kepada ornag yang sering naik gunung ternyata dia bilang tidak ada. Disitu hati saya gelisah, karena kebanyakan orang yang sudah terbiasa menggunakan rok ketika naik gunung melepaskan roknya dan mengganti dengan celana training. Lalu kemana pakaian syar’i kalian wahai ukhti??? (yah keceplosan deh ‘afwan ya #agakkeseldikit). Namun, pertanyaan itu sirna ketika saya melihat wanita mendaki bukit dengan roknya. Alhamdulillah,,, Kesimpulannya, Jadi, mendaki gunung bukan dijadikan alasan untuk tidak berpakaian syar’i.
Sahabatku, perjalanan masih panjang tuk kita menelusuri negeri ini, yang penuh sejuta impian dan masih terpendam seribu potensi dari tatapan mata bocah lugu sudut negeri. Hanya layang-layang yang mampu manantang angin yang mampu berkibar tinggi diangkasa. Jika kita tidak mampu menjadi pelita yang menerangi malam, maka jadilah kunang-kunang yang menghiasi malam.
Semoga sedikit kesungguhan untuk berjuang mendapat ridho ALLAH. Dan bagi kami yang mendapat kesempatan baik ditempat pangabdian, untuk dapat memanfaatkan rasa syukur kepada ALLAH yang selalu menguji hambanya dan memberi jalan keluar, disetiap permasalahan.
“sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tidak menonjolkan diri, taqwa, & shalih.
Apabila tidak hadir, mereka tak dicari-cari
Apabila hadir mereka tak dikenali
Mereka bagaikan lentera-lentera petunjuk Yang mampu menerangi setiap kegelapan”
(HR. Al Mundziri dalam At Targhib wat Tarhib, Hasan)
Cibuyutan, 21 Januari 2014 Pukul : 22.37 WIB
Biodata Penulis
Nama                           : Hendy Santoso        
Nama Panggilan          : Hendy/Hensa
Alamat                                    : Jl. Tanah Tinggi XII No.15  RT04/12 Jakarta Pusat
TTL                             : Tegal, 23 Juli 1994
Riwayat Pendidikan :
SDN Pagiyanten III
SMPN 2 Adiwerna, Tegal
SMAN 27 Jakarta
FB                               : Hendy Santoso
Twitter                                    : @hendykimia
No. Hp                                    : 0857 821 921 89
Pekerjaan                     : Pendidik dan wirausaha
Pesan                           : Kita jangan hanya jadi PENONTON, tetapi kita harus jadi PEMAIN dalam hidup ini.
Motto :
Teruslah BERGERAK membuat jejak-jejak KEBAIKAN,
karena ELEKTRON takkan pernah lelah dan berhenti ‘tuk mengorbit inti ATOM.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar